oleh

Pasutri ‘Bengkel Ilmu’ Anak-anak Balukut

RakyatBMR.com, Boltim – Bukit balukut merupakan salah satu wilayah terpencil Di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Provinsi Sulawesi Utara.

Lokasinya yang berada di dataran tinggi Desa Motongkad Utara, Kecamatan Motongkad ini memiliki topografi yang unik dengan kondisi jalan yang terjal.

Bukit ini berjarak lebih dari tiga kilometer dari ibukota Kecamatan Motongkad.

Jalan menuju ke bukit ini baru berupa perkerasan. Medan jalan cukup berat, terdapat beberapa tanjakan. Badan jalan banyak dipenuhi rumput liar.

Sebelum tiba di bukit ini, harus menyebrangi sungai yang lebarnya sekira 8 meter.

Di sepanjang jalan, mata akan disuguhi pemandangan menakjubkan.

Kondisi jalan menuju Bukit Balukut

Di beberapa titik ketinggian, tampak terlihat lautan luas, Danau Motongkad dan desa-desa sekitar.

Di sisi kiri dan kanan jalan terhampar pepohonan cengkih produktif, pohon-pohon kelapa serta beberapa jenis tanaman bulanan seperti cabai dan jagung.

Para petani tampak sibuk mengurus tanaman. Sebagian lagi sedang mengayunkan parang memangkas rumput di sela-sela tanaman cengkih.

Tempat ini dihuni oleh puluhan warga yang merupakan bagian dari Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) sejak 2017.

Tiba di Bukit Balukut tim wartawan yang tergabung dari beberapa media ini menemui pasangan suami istri (Pasutri) yang sama-sama berprofesi sebagai guru.

Cerita keduanya sebagai tenaga pengajar di satu-satunya sekolah di bukit itu sudah lama terendus wartawan.

Namun baru Sabtu (16/10/2021), wartawan berhasil menemui keduanya.

Mereka adalah Ade Irawan dan Maimuna, masing-masing berusia 45 tahun.

Pasangan suami istri, Ade Irawan dan Maimuna, merupakan tenaga pengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MIS) Ma’rif Bukit Balukut.

Keduanya adalah warga transmigran asal Jakarta. Mereka masing-masing bergelar Sarjana Pendidikan Islam (SPdI), alumni Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Bengkalis.

Ade dan Maimuna sudah bermukim di Bukit Balukut sejak 2016.

Mereka telah dikaruniai dua orang anak. Anak pertama berusia sembilan tahun kini duduk di kelas III SD, dan anak kedua berusia empat tahun.

“Anak pertama ‘hasil’ di Jakarta, kalau anak kedua sudah hasil Balukut,” sebut Ade Irawan kepada wartawan, di rumah sederhananya, di Bukit Balukut.

MEREKA ‘BENGKEL’ UNTUK ANAK BALUKUT

Pasangan suami-istri menjadi tenaga pengajar di MIS Ma’rif.
Madrasah ini belum memiliki bangunan sendiri. Mereka hanya memanfaatkan kantor UPT yang dialihfungsikan sebagai madrasah.

Bangunan ini hanya berjarak 20 meter dari rumah yang ditinggali Pasutri Ade dan Maimuna.

Anak-anak di Bukit Balukut yang bersekolah MIS Ma’arif.

Di dinilah 12 anak Bukit Balukut diajari. Tak hanya mata pelajaran umum dan keagamaan, Ade juga mengambil bagian mengajarkan baca Al-Qur’an kepada anak-anak itu.

Meski menjadi guru di sekolah itu, Ade ternyata tidak mendapatkan gaji. Dia berstatus ‘relawan’ untuk mengajari anak-anak Bukit Balukut.
Tak sepeser pun dia terima dari bakti membebaskan anak-anak Bukit Balukut dari buta huruf, membaca dan menulis.

“Saya terikat kontrak dengan Kementrian Agama sebagai penyuluh, makanya tidak masuk sebagai guru kontrak,” ujar Ade.

Ikatan kontraknya dengan Kemenag berlaku selama lima tahun, terhitung tahun 2019 hingga 2024.

Sedangkan sang istri, Maimuna, berstatus guru kontrak hasil seleksi Pemkab Boltim pada Juli 2021.

12 belas siswa MIS Ma’rif yang mereka ajari masing-masing dua siswa kelas II, tiga siswa kelas III, tiga siswa kelas IV, tiga siswa kelas V dan satu siswa kelas VI.

Untuk siswa kelas I, sebanyak dua orang dan memilih bersekolah di SDN 1 Inpres Motongkad.

Status mereka adalah siswa kelas jauh. Dari 19 siswa itu, tiga diantaranya tercatat sebagai murid SD Cokroaminoto Motongkad dan sembilan siswa tercatat sebagai siswa SDN 1 Inpres Motongkad.

Untuk kegiatan belajar mengajar, Ade dan Maimuna membagi kelas ‘binaan’. Ade mengajar untuk siswa kelas IV, V dan VI, sedangkan sang istri mengajari siswa kelas II dan III.

“Proses belajarnya hari Senin sampai Rabu. Saya dan istri bagi tugas untuk siswa di masing-masing kelas,” ujarnya.

Proses belajar mengajar ini berlangsung pagi hingga siang hari. Sore harinya, para siswa mereka mengaji.

“Kita di sini seperti bengkel. Sebab, (dulunya) ada siswa kelas empat dan lima yang belum tahu baca tulis. Sekarang kelas dua sudah bisa (baca tulis),” ketusnya.

STATUS SEKOLAH DAN LAHAN HIBAH

Sebagai sekolah yang belum mendapat ijin operasional, MIS Ma’arif belum mendapatkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah.

Maimuna menuturkan, dengan status tersebut, sekolah itu tidak memiliki anggaran untuk berbagai kegiatan kesiswaan.

“Tidak ada anggaran untuk kegiatan semacam lomba atau kegiatan-kegiatan lain kepada siswa,” tuturnya.

Suasana di Puncak Bukit Balukut.

Di awal tadi, telah disampaikan bahwa MIS Ma’arif menjalankan proses belajar mengajar dengan segala keterbatasan dan status sebagai sekolah jarak jauh.

Bagi mereka, apapun status sekolah itu, yang lebih penting adalah mencegah anak-anak Bukit Balukut dari buta huruf dan buta tulis serta dapat membaca Al-Qur’an.

Sekolah yang hanya meminjam kantor UPT ini ternyata telah menggugah hati salah satu warga setempat, Sukri Mamonto.

Dia telah menghibahkan sebagian tanahnya untuk pembangunan MIS Ma’arif. “Ini person orang tua saya,” kata Sukri.

Meski lahan telah tersedia, belum ada informasi kapan pembangunan sekolah itu dapat terealisasi.

BELUM SEBERUNTUNG SANG ISTRI

Ade dan istrinya, Maimuna, baru-baru ini mengikuti seleksi penerimaan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) di Kabupaten Boltim tahun 2021.

Ade gagal mengikuti seleksi tersebut. Dia tak seberuntung istrinya yang lolos dalam penerimaan P3K.

Maimuna bercerita, pada seleksi penerimaan P3K, dia memilih kuota SMP Satap Kokapoy.

Dia sendiri tak tahu di mana letak desa itu. Baru setelah lulus, dia mulai mencari informasi letak desa dan sekolah calon tempatnya akan mengajar.

“Saya lihat di sekolah itu (kuotanya) masih kosong jadi saya pilih. Saya tidak tahu sekolah itu dan desanya di mana,” ungkap Maimuna.

Dengan begitu, Maimuna harus segera menyiapkan diri untuk pindah ke Kokapoy. Berat hatinya meninggalkan Bukit Balukut. Dia dan suami terlanjut ‘jatuh cinta’ dengan anak-anak di wilayah terpencil itu.

“Saya ingin tetap di sini (Bukit Balukut) tapi istri saya lulus P3K di Kokapoy. Di mana pun wilayah Kokapoy itu, kami bersyukur karena telah lulus P3K,” kata Ade.

DARI 2 ONS KE 18 KILOGRAM

Menjadi tenaga penyuluh kontrak dan guru kontrak, mereka jalani dengan tekun.

Ade dan Maimuna berusaha memaksimalkan seluruh pendapatan mereka dari gaji tersebut untuk kebutuhan hidup keluarga.

Ade Irawan dan Maimuna selalu bersyukur di segala kondisi yang mereka alami.

Sebagai tambahan pendapatan, Ade dan Maimuna memanfaatkan pekarangan rumah mereka untuk ditanami cengkih dan tanaman bulanan lainnya.

“Cengkih yang saya tanam sebanyak 30 pohon, dua puluhan pohon sudah berbuah,” kata Ade.

Dia bercerita, cengkihnya pertama kali panen pada 2019. Beratnya hanya 2 ons dan laku terjual senilai Rp 14.000. tahun 2020, panen cengkih ini naik dan menghasilkan Rp 400.000.

Tahun ini, pohon-pohon cengkihnya menghasilkan 18 kilogram cengkih kering dan terjual seharga Rp 1,8 juta.

“Lahan rumah ini ada 25×50 meter, karena cukup besar maka saya tanami cengkih. Alhamdulillah sudah ada hasilnya untuk tambahan pendapatan. Ada juga tanaman cabai,” akunya.

Dengan pendapatan baik dari gaji sebagai tenaga penyuluh kontrak Kemenag dan tenaga guru honor Pemkab Boltim, serta tambahan pendapatan dari hasil panen cengkih setiap tahun, Ade Irawan dan Maimuna mensyukurinya.

Mereka memegang prinsip untuk selalu bersyukur dalam segala kondisi yang dialami. (Red)

Komentar

Berita Menarik Lainnya